Gina Rinehart, Orang Terkaya di Australia yang Digugat Anak Soal Warisan

GINA RINEHART

JAKARTA – Gina Rinehart adalah orang terkaya di Australia. Ia mendulang cuan dari tambang bijih besi di bawah Hancock Prospecting. Per Sabtu (16/9), Forbes mencatat total kekayaan Rinehart mencapai US$26,3 miliar atau setara Rp403,7 triliun (asumsi kurs Rp15.350 per dolar AS). Berkat kekayaannya itu, tak heran Forbes menobatkan Rinehart sebagai orang terkaya di Australia pada 2023.

Tahun ini, Rinehart juga menduduki peringkat ke-52 orang terkaya di dunia versi Forbes.Dilansir dari situs resmi Gina Rinehart, konglomerat wanita ini lahir di Perth, Australia pada 9 Februari 1954. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pilbara, di barat laut Australia. Di daerah terpencil itu, ia tinggal bersama orang tuanya di peternakan domba dan sapi besar.

Ayahnya, Lang Hancock, adalah pendiri perusahaan pionir tambang bijih besi Australia, Hancock Prospecting, pada 1955. Sementara ibunya bernama Hope Margaret Nicholas.

Saat berusia 8 tahun, Rinehart bersekolah di asrama Sekolah Anglikan untuk Anak Perempuan St. Hilda di Perth. Ia sempat mencicip bangku kuliah di University of Sydney. Namun, ia memutuskan untuk berhenti dan memilih langsung bekerja di perusahaan ayahnya.

Pada 1992, sang ayah wafat. Lang mewariskan Hancock Prospecting kepada putri satu-satunya, Rinehart, yang langsung menduduki kursi executive chairman. Kala itu, kondisi keuangan perusahaan sedang buruk

Di tangan Rinehart, perusahaan mampu lepas dari kesulitan keuangan. Bahkan, Grup Hancock kini menjadi salah satu perusahaan tambang terkemuka di dunia.

Grup Hancock melakukan diversifikasi setelah puluhan tahun berdiri. Perusahaan tidak hanya sekadar eksplorasi tambang, tetapi juga investasi lebih lanjut pada bijih besi, tembaga, kalium, emas, batu bara, sapi, susu, dan properti.

Beberapa perusahaan di bawah Grup Hancok adalah tambang bijih besi Roy Hill, Atlas Iron, dan perusahaan susu Bannister Downs.

Di tambang Hope Downs, Rinehart mengubah status kepemilikan rumah petak perusahaan tersebut dari status kepemilikan sementara – di mana area tersebut hanya memiliki beberapa lubang pengeboran – menjadi status perjanjian negara dan studi kelayakan bank, untuk kemudian bermitra dengan Rio Tinto.

Pencapaian utama Rinehart adalah eksplorasi, pembiayaan, konstruksi dan pengoperasian proyek Roy Hill senilai US$10 miliar. Pendanaan yang diperoleh merupakan yang terbesar yang pernah ada untuk proyek pertambangan dan infrastruktur berbasis lahan yang sebagian besar merupakan lahan hijau (greenfield) dan proyek infrastruktur di mana pun di dunia.

Paket pendanaan utang ini diperoleh dari 19 bank terbesar di dunia dan lima Badan Kredit Ekspor. Roy Hill menggunakan beberapa peralatan pertambangan terbesar di dunia, yang merupakan yang pertama di dunia.

Ia juga mendorong penggunaan truk berwarna merah muda, kereta api berwarna merah muda, pabrik pakaian terbesar di Australia juga berwarna merah muda dan banyak lagi di seluruh lokasi Roy Hill, untuk mendukung mereka yang menderita kanker payudara, dan untuk mendukung perempuan di pertambangan.

Saat ini, properti Hancock Group tersebar di sebagian besar negara bagian di Australia.

Ia juga pendiri Australians for Northern Development and Economic Vision (ANDEV), penulis dua buku, dan penyusun serta pendana buku ketiga. Ia juga mendirikan Hari Pertambangan Nasional dan Industri Terkait Tahunan Australia dan Hari Pertanian Nasional dan Industri Terkait.

Rinehart juga dikenal sebagai filantropis lewat yayasan amal Grup Hancock yang mendukung sejumlah organisasi medis, olah raga, pendidikan, kesehatan, dan komunitas.

 

Digugat Anak Gara-gara Warisan

Kesuksesan Rinehart di dunia bisnis ternyata tak dibarengi dengan kehidupan pribadinya.

Reinhart pernah menikah dua kali. Pada 1973, ia menikah dengan Greg Hayward tetapi hanya bertahan hingga 1981. Lalu, pada 1983, ia kembali menikah dengan Frank Rinehart yang meninggal dunia pada 1990.

Dari dua pernikahannya, Rinehart dikaruniai empat orang anak yakni Bianca Hope Rinehart, Ginia Rinehart, John Hancock, dan Hope Rinehart Welker.

Selama dua dekade terakhir, ia berseteru dengan tiga anak kandungnya sendiri, John, Bianca, dan Hope. Pasalnya, ia tidak mau mewariskan harta dan bisnis keluarga ke anak-anaknya. Bahkan, ia dituding tidak menyerahkan warisan Lang Hancock ke cucu-cucunya itu.

Pada 2003 lalu, anak pertamanya, John mempertanyakan soal dana perwalian (trust fund) yang dibuat sang kakek untuk cucu-cucunya pada 1988. Namun, ia tak mendapatkan jawaban memuaskan.

Lalu, skandal itu kembali terkuak setelah ketiga anaknya mempertanyakan perihal warisan yang ditinggalkan sang kakek melalui email kepada Rinehart pada 2011.

Dalam email itu, Rinehart mengatakan mengatakan akan mengelola seluruh warisan ayahnya sendiri hingga 2068 atau hingga ia berusia 114 tahun. Tentu saja hal itu membuat ketiga anaknya keberatan dan menggugat Rinehart berkali-kali di pengadilan.

Hanya si bungsu, Ginia, yang tetap berada di sisi ibunya. Ginia digadang-gadang sebagai pewaris kerajaan tambang itu. (*)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *