Catatan Kunjungan Delegasi PWI ke Korea (1); Nasionalisme dan Etos Kerja

Oleh: Zacky Antony

Korea dan Indonesia punya latar belakang sejarah yang hampir mirip. Sama-sama pernah dijajah Jepang. Bahkan, kedua bangsa ini boleh dibilang punya starting yang hampir bersamaan. Indonesia pada 17 Agustus 1945. Korea Selatan pada 15 Agustus 1948. Lima tahun pertama setelah merdeka, mereka sama seperti Indonesia. Masih sibuk berperang.

            Tahun 1960-an, Korea masih merupakan negara miskin. Indonesia ketika itu sudah tampil di panggung dunia. Tahun 1955, Soekarno sudah menggagas Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, lalu kemudian mempelopori berdirinya Gerakan Non Blok. September 1960, Soekarno sudah berpidato di depan Dewan Umum PBB dengan judul “To Build The World A New.”

            Setelah 71 tahun melalui perjalanan sebagai sebuah bangsa, fakta menunjukkan Korea Selatan mampu melesat lebih jauh. Korsel dengan penduduk saat ini sekitar 50,4 juta jiwa, telah menjelma menjadi kekuatan baru ekonomi dunia. Perusahaan-perusahaan mereka tumbuh menjadi raksasa. Sebut saja misalnya, Sambung Elektronik yang menjadi perusahaan elektronik terbesar di dunia. Di dunia elektronik, kurang lengkap kalau belum menyebut LG. Di sektor otomotif, siapa tidak kenal Hyundai yang juga mendunia.

            Industri telepon seluler (smartphone) Korea menempati peringkat pertama pangsa pasar dunia dari sisi penjualan, industri mobil mencapai angka penjualan 4,7 juta di pasar global, industri LCD Display menguasai pasar global hingga 51 persen.

            Etos kerja dan nasionalisme menjadi dasar bangsa Korea mencapai kemajuan di berbagai bidang. Salah satu pola pikir yang saya maksud, contohnya, mereka tidak mau menggunakan produk buatan Jepang sebagai bekas penjajah. Ukuran maju bagi orang Korea adalah mengalahkan Jepang. Bandingkan dengan kita, yang sekarang masih “dijajah” dengan berbagai produk Jepang. Mobil-mobil dan motor buatan Jepang sangat mendominasi pasar Indonesia. Kita memang tidak lagi dijajah secara fisik oleh Jepang seperti periode 1942-1945. Tapi menurut saya sekarang kita “dijajah” dalam bentuk lain yaitu ketergantungan pada produk-produk negeri Samurai tersebut. Itu yang tidak terjadi pada Korea.

            Berbagai produk elektronik seperti yang saya sebutkan di atas tadi, Samsung, LG, Hyundai, merupakan bukti etos kerja orang Korea. Mereka sedikit bicara, tapi banyak kerja. Satu lagi keunggulan Korea yang patut kita tiru yaitu disiplin. Secara sederhana, kedisiplinan terhadap aturan contohnya, terlihat di traffic light khusus pejalan kaki. Ketika lampu menyala merah, orang-orang Korea tetap tidak menyeberang, walaupun ketika  itu tidak ada mobil melintas.

            Perekonomian Korea saat ini menempati peringkat 12 dunia. Negara dengan PM Park Gyeun Hee ini juga menjadi anggota G-20 atau Group of Twenty.

            Sekarang Korea sedang berpacu mengembangkan industri pesawat terbang. Fokus mereka memang lebih kepada fighter atau pesawat tempur. Potret penguasaan teknologi pesawat ini tergambar dari kunjungan delegasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ke negeri ginseng tersebut 20-27 Oktober 2016.

            Selama sepekan, sebanyak 13 orang delegasi PWI diajak melihat berbagai kemajuan negeri ginseng tersebut mulai dari gemerlap Seoul, Changwon, hingga Cheju di Selatan.  

            Delegasi PWI dipimpin, Atal S Depari (Wakil Ketua Bidang Urusan Daerah), Teguh Santosa (Wakil Ketua Bidang Luar Negeri) dan Agus Sudibyo (pengurus PWI Pusat), ditambah 10 orang ketua PWI Provinsi masing-masing Amir Machmud (Ketua PWI Jawa Tengah), Mirza Zulhadi (Ketua PWI Jawa Barat), Basril Basyar (Ketua PWI Sumbar), Mursyid Yusmar (Ketua PWI Jambi), Dwi Kora (Ketua PWI Bali), Ramon Damora (Ketua PWI Kepri), Tarmilin Usman (Ketua PWI Aceh), Endro S Effendi (Ketua PWI Kaltim), Firdaus Zainuddin Dahlan (Ketua PWI Banten) dan Zacky Antony (Ketua PWI Bengkulu).             Delegasi PWI sejatinya yang diundang 15 orang, tetapi pada hari-hari terakhir 2 orang batal karena suatu hal yaitu Ilham Bintang dan Ketua Umum PWI  Margiono. (bersambung)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *