Catatan Kunjungan Delegasi PWI ke Korea (3); Menikmati Keindahan Pulau Jeju

Oleh: Zacky Antony

Bacaan Lainnya

            Sebelum menuju Sancheon, kami sempat dua malam menginap di Pulau Jeju yang begitu dingin.             Penerbangan Seoul – Jeju memakan waktu sekitar 1,5 jam. Keunggulan Cheju karena didukung infrastruktur yang memadai. Semua jalan dan jembatan sangat mulus. Dilihat dari segi keindahan alam, banyak daerah di Indonesia yang tidak kalah, bahkan lebih indah. Bedanya, fasilitas penunjang mereka lebih baik. Besar Pulau Jeju kira-kira 2 kali Singapura.

            Sebagai contoh, pada hari kedua di Jeju, rombongan PWI diajak melihat keindahan wisata di dasar laut dengan naik kapal selam. Dari pelabuhan, kami naik kapal menuju ke sebuah pulau kecil selama lebih kurang 20 menit. Mendekati pulau tersebut, kami berpindah kapal yang sekaligus bertindak sebagai jangkar.

            Dari atas kapal itulah, baru kemudian kami naik kapal selam. Selama lebih kurang 1 jam, kapal selam bergerak ke dasar laut. Ini pengalaman pertama saya menaiki kapal selam. Terpampang keindahan terumbu karang dan berbagai jenis ikan.

            Bila dilihat dari keindahan panorama dasar laut, saya yakin cukup banyak wilayah di Indonesia yang memiliki keindahan lebih memikat. Tapi ya itu tadi, belum didukung fasilitas penunjang seperti kapal selam tadi misalnya. Keunggulan berbagai fasilitas tersebut membuat jumlah wisatawan yang datang ke Pulau Cheju terus meningkat dan sekarang mencapai angka 10 juta wisatawan per tahun, dan 30 persen diantaranya adalah wisatawan mancanegara.

            Pantai-pantai di Pulau Jeju sebagian berbentuk tebing dengan batu karang tinggi menjulang. Ada 200 tempat di Pulau Jeju yang bisa dikunjungi. Dan 80 diantaranya adalah museum, seperti museum teh hijau, museum mobil. Ada pula Loveland tempat wisata yang menyimpan berbagai jenis patung dan asesoris seksual. Di Jeju juga terdapat stadion berkapasitas 40 ribu tempat duduk yang pernah dipakai untuk pertandingan sepakbola World Cup tahun 2002.

            Meskipun tergolong Negara maju, tapi orang Korea juga percaya tahayul. Di Jeju, ada sejumlah patung yang dipercaya bisa mendatangkan manfaat. Bila dipegang bagian hidung, maka pasangan yang tidak punya keturunan, diyakini akan punya anak. Bila dua kali dipegang, bagian hidung, maka bisa mendatangkan anak kembar.

            Pemerintah Korea juga sudah berpikir mengalihkan ketergantungan bahan bakar minyak (BBM) ke energi listrik. Dari 3.000 unit mobil yang berada di Jeju, misalnya, tigapuluh persen adalah mobil listrik. Dan ditargetkan pada tahun 2030, seluruh mobil di Jeju –dan juga Korea— sudah menggunakan energi listrik.

            Upaya pemerintah Korea mengurangi ketergantungan dengan bahar bakar minyak sangat masuk diakal. Negara ini bukan penghasil minyak. Karena itu mengembangkan mobil listrik menjadi solusi. Sebagai perbandingan, harga bensin di Jeju mencapai 1.300 Won atau setara sekitar Rp 15.600 per liter. Harga itu 250 persen lebih tinggi dibanding harga bensin di Indonesia yang hanya Rp 6.450 per liter.

            Di Jeju juga tidak ada sampah makanan. Karena sampah makanan diolah lagi untuk dijadikan makanan babi. Ada pula peternakan kuda. Menurut Piter, 70 persen kuda di Korea ada di Jeju. Ceritanya, saat Mongol menguasai Cina pada abad XIII, tentara Mongol juga menguasai Korea. Jeju diserahkan kepada Mongol. Oleh Jengis Khan, Jeju dijadikan tempat peternakan kuda untuk kepentingan militer. Dan sampai sekarang peternakan-peternakan kuda itu masih terpelihara.

            Cukup banyak restaurant di Korea menyediakan daging kuda. “Rasa daging kuda miring daging sapi. Tapi kandungan lemaknya lebih tinggi. Dan daripada dimasak, daging kuda lebih baik dimakan mentah. Proteinnya lebih banyak. Jadi mengapa orang Jeju banyak makan daging kuda, yak arena memang di sini banyak kuda,” terang Piter.

Pergeseran Kultur

            Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah kultur. Itu pula yang terjadi di Korsel. Pada hari pertama di Seoul, usai Salat Jumat, delegasi PWI mengunjungi salah satu jaringan media terbesar di Korea yaitu JoongAng Ilbo. Kami diterima Managing Editor, Choi Hoon di lantai 9. Diskusi selama lebih kurang 1 jam berlangsung hangat. Dari penjelasan Choi tergambar, bahwa media cetak di Korea juga mengalami situasi yang sama seperti dialami Indonesia yakni pergeseran prilaku (kultur).

            “Sepuluh tahun lalu, kalau kita naik kereta, kita akan melihat pemandangan, semua orang membaca koran. Tapi sekarang sudah berubah. Orang membaca lewat handphone,” ujar Choi Hoon.

            Masyarakat Korea tergolong memiliki minat baca sangat tinggi. Karena jangan heran, oplah koran di Negara ini —walau belum setinggi Jepang— hingga berjuta-juta eksemplar. Koran JoongAng Ilbo misalnya, oplahnya mencapai 2 juta eksemplar.

            Namun seiring terjadinya pergeseran kultur sebagai dampak perkembangan teknologi, prilaku masyarakat beralih ke digital. JoongAng Ilbo merasakan dampaknya. Oplah koran yang sebelumnya 2 juta berangsur turun hingga sekarang tinggal 1 juta eksemplar setiap hari.

            “15 tahun lalu, dari 100 orang Korea, 65 persen membaca koran. Tapi sekarang tinggal 20 persen yang membaca koran. Secara keseluruhan koran semakin turun, karena itu sekarang kita ubah koran ke arah digital,” ujar Choi Hoon.

            Selain menerbitkan koran, JoongAng Media Network juga memiliki televisi, majalah perempuan. Khusus koran harian bekerjasama dengan New York Times. “Saya kira Indonesia juga akan punya dilema yang sama seperti dialami Korea,” ujar Choi Hoon yang mengaku sering pergi ke Bali.

            Sebelum meninggalkan kantor JoongAng Ilbo, kami sempat diajak turun ke lantai 6 melihat ruang redaksi.

            Menjelang Magrib, delegasi PWI melanjutkan kunjungan ke kantor PWI Korea yang terletak di jantung kota Seoul. Tepatnya di Korea Press Center Building. Delegasi diterima langsung Ketua PWI Korea, Jung Kyu Sung.

            Pertemuan dengan PWI Korea berlangsung dalam suasana persahabatan yang kental. Dari penjelasan Jung Kyu Sung diketahui, anggota PWI Korea berjumlah 10.000 orang. Pemilihan Ketua PWI berlangsung 2 tahun sekali dan dibatasi hanya 2 kali periode masa jabatan atau maksimal 4 tahun.

            Yang menarik, PWI Korea juga punya koran sendiri dengan oplah mencapai 50 ribu eksemplar setiap hari. Punya wartawan dan editor sendiri. Usai pertemuan dilanjutkan jamuan makan malam. (*)

Penulis adalah Ketua PWI Provinsi Bengkulu 2015 – 2021.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *