Catatan Kunjungan Delegasi PWI ke Korea (2); Kembangkan Pesawat Tempur

Ketua PWI Provinsi Bengkulu Zacky Antony berada di pabrik pesawat tempur KAI (Korea Aerospace Industri).

Oleh: Zacky Antony

Bacaan Lainnya

            Selama sepekan, 20-27 Oktober 2016, sebanyak 13 orang delegasi PWI diajak melihat berbagai kemajuan negeri ginseng tersebut mulai dari gemerlap Seoul, Changwon, hingga Cheju di Selatan.

            Delegasi PWI dipimpin, Atal S Depari (Wakil Ketua Bidang Urusan Daerah), Teguh Santosa (Wakil Ketua Bidang Luar Negeri) dan Agus Sudibyo (pengurus PWI Pusat), ditambah 10 orang ketua PWI Provinsi masing-masing Amir Machmud (Ketua PWI Jawa Tengah), Mirza Zulhadi (Ketua PWI Jawa Barat), Basril Basyar (Ketua PWI Sumbar), Mursyid Yusmar (Ketua PWI Jambi), Dwi Kora (Ketua PWI Bali), Ramon Damora (Ketua PWI Kepri), Tarmilin Usman (Ketua PWI Aceh), Endro S Effendi (Ketua PWI Kaltim), Firdaus Zainuddin Dahlan (Ketua PWI Banten) dan Zacky Antony (Ketua PWI Bengkulu).

            Salah satu agenda penting kunjungan delegasi PWI ke Korea adalah melihat pabrik pesawat tempur buatan Korea Aerospace Industries (KAI) yang sedang bekerjasama dengan PT. Dirgantara Indonesia (DI).

            Tidak banyak Negara yang bisa bikin jet tempur. Diantara sedikit Negara tersebut, tercatat Amerika Serikat, Perancis, Rusia, Cina dan belakangan Jepang. Bila kerjasama dengan KAI ini sesuai seperti harapan, 10 tahun lagi, Indonesia akan berada di jajaran Negara-negara yang mampu memproduksi jet tempur sendiri.

            Pabrik pesawat tempur KAI terletak di Kota Sacheon, Provinsi Gyeongsang. Hari ketiga kami berkunjung ke sana. Setelah dua malam menginap dan menikmati keindahan Cheju yang dikenal Bali-nya Korea.

            Saat memasuki kawasan Korea Aerospace Industries (KAI), ingatan saya langsung melayang kepada sosok Prof. Dr. BJ Habibie. Mantan Presiden RI ke-3 yang juga perintis industri dirgantara di tanah air. Tahun 1995, di bawah sentuhan Habibie, insinyur-insinyur Indonesia mampu memproduksi pesawat sendiri. Kalau saja, pengembangan industri pesawat tidak terhenti saat huru-hara 1998, penguasaan teknologi pesawat kita sejajar dengan Korea.

            Nama Habibie cukup populer di kalangan petinggi KAI. GM KAI, Lee Dong Shin, yang menerima delegasi PWI juga mengenal baik Habibie.

            Jejeran replika jet tempur langsung menyambut pandangan mata saat kami memasuki ruangan kantor KAI. Total KAI telah mengekspor 130 pesawat tempur berbagai tipe ke sejumlah Negara, termasuk Indonesia. Bahkan, Indonesia merupakan pembeli pertama T-50 (pesawat latih) sebanyak 17 unit pada tahun 2010.

            “Indonesia fokus pada pesawat komersil. Sedangkan kita fokus pada fighter. Kami tidak fokus ke pesawat komersil, karena wilayah Korea tidak seluas Indonesia. Jadi kami fokus ke pesawat militer. Rintisan aerospace Korea ini sudah dimulai sejak tahun 1980-an. Dan sekarang kita sudah mulai ekspor,” promo Lee Dong Shin.

            Disinggung mengenai rudal nuklir, menurut Lee, mereka sudah terikat perjanjian dengan Amerika Serikat (AS) untuk tidak membuat rudal nuklir. Tetapi mereka mengembangkan teknologi roket. “Tahun 2021 kami akan meluncurkan roket yang dirakit di KAI,” tambahnya.

            Diantara sekitar 5.000 karyawan KAI, terdapat 70 insinyur Indonesia. Mereka adalah karyawan PT. Dirgantara Indonesia. Insinyur-insinyur muda itu dipekerjakan di KAI karena antara PT. DI dan KAI telah menjalin kerjasama dalam pembuatan jet tempur jenis fighter KF-X/IF-X. Program kerjasama ini berlangsung selama 10 tahun dan akan berakhir tahun 2026.

            KF-X atau Korea Fighter Xperiment adalah untuk jet tempur Korea, sedangkan IF-X atau Indonesia Fighter Xperiment untuk jet tempur Indonesia. Kerjasama pembuatan jet tempur ini mengadopsi teknologi generasi 4.5. Teknologi ini sudah cukup maju. Karena beberapa pesawat tempur yang dimiliki sejumlah Negara di dunia masih generasi 4. Hanya jet-jet tempur AS yang kelasnya berada di atas yakni sudah generasi 5.

            KF-X dan IF-X ini digadang-gadang akan menandingi kehebatan jet-jet tempur buatan Perancis dan Rusia.

            Selama 10 tahun kerjasama tersebut, jumlah insinyur Indonesia yang dipekerjakan di KAI akan ditambah secara bertahap setiap tahun hingga mencapai sekitar 200 orang. Mereka akan terlibat mendesain seluruh komponen pesawat.

            Menurut Lee Dong Shin, bahan baku pembuatan jet tempur, 65 persen berasal dari Korea, khususnya untuk bodi pesawat. Sedangkan 35 persen diimpor dari Negara lain dengan alasan efisiensi biaya.”Perakitan semua di Korea. Dan Korea merupakan Negara ke-12 yang bisa mengembangkan pesawat supersonic. Cita-cita kita pada tahun 2020, KAI menjadi perusahaan nomor 15 di dunia,” terangnya.

            Setelah dijamu di ruang pertemuan, delegasi PWI diajak menuju ruangan pembuatan pesawat. Luasnya menyamai stadion sepakbola. Tidak begitu banyak pekerja yang terlihat. Karena proses perakitan melibatkan robot. Proses pengecatan, misalnya, menggunakan tenaga robot. Begitu juga proses pelistrikan, pemasangan sambungan antar bodi. Semua menggunakan tenaga robot otomatis.

            Terlihat juga jet tempur yang sudah hampir rampung pesanan pemerintah Irak. Itu diketahui, karena di bagian kepala jet terpampang bendera Irak.

            Setelah itu, kami diajak melihat pabrik pembuatan sayap pesawat komersil Airbus yang merupakan kerjasama KAI dengan AS. Selain dengan Airbus tahun 2010, KAI juga punya kontrak pembuatan sayap Boeing tahun 2012. “Ini titanium untuk sayap pesawat, bahan awalnya seberat 3 ton. Tapi setelah diproses pengepresan, tinggal 80 kg,” ujar Lee.

Bertemu Insinyur Indonesia

            Menjelang akhir kunjungan, rombongan delegasi PWI bertemu dengan perwakilan insinyur Indonesia yang bekerja di KAI. Menurut perwakilan insinyur Indonesia dipimpin Gator Mulya Pribadi, dari 70 insinyur Indonesia yang sekarang berada di KAI, setiap tahun bisa terjadi pergantian. Dia mengakui, tidak semua area perakitan pesawat KAI, insinyur Indonesia terlibat.

            Tapi yang membanggakan, diantara 70 insinyur Indonesia yang bekerja di KAI, sebagian masih berusia muda. Ada 8 insinyur berusia di bawah 30 tahun. Dan 8 orang wanita, 7 diantaranya berjilbab. (bersambung)

Penulis adalah Ketua PWI Provinsi Bengkulu 2015 – 2021.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *